Salsabila A. Solehah Ariyadi

Prestasi, Kuncinya Giat Berlatih

Prestasi, Kuncinya Giat Berlatih Bentar Wibisana Salsabila A. Solehah Ariyadi, siswi SMP Negeri 1 Cimanggung, Kabupaten Sumedang

Berusaha untuk menjadi yang terbaik dan bisa memboyong medali untuk dipersembahkan ke sekolah. Tetapi kalau kalah jangan putus asa, tetapi harus dijadikan motivasi untuk lebih meningkatkan lagi latihan.

Postur tubuh Salsabila A. Solehah Ariyadi, siswi SMP Negeri 1 Cimanggung, Kabupaten Sumedang memang kecil, tetapi ternyata bernyali besar. Apalagi ketika menghadapi musuh, sekalipun fisiknya lebih besar, ia tidak akan gentar untuk melawannya.

Karateka yang kini baru naik ke kelas IX ini menjadi salah satu siswa yang memiliki banyak prestasi dalam cabang olahraga karate. Salsa begitu panggilannya, menyenangi karate memang sejak kecil dan menjadi hobinya yang mampu membawa dirinya menyandang predikat sebagai siswa berprestasi di SMP Negeri 1 Cimanggung.

Lalu prestasi apa saja yang pernah diraih Salsa? Menurut Salsa, dari sekian ajang kompetisi karate yang pernah diikutinya, di antaranya pernah menjadi juara 2 Inkai di Jakarta tingkat nasional tahun 2018, juara 3 Kejuaraan se-PB Forki di Cimahi tahun 2019, juara 1 kejuaraan tingkat Kabupaten Sumedang tahun 2020, juara 2 dan juara 3 Kejuaraan Karate di Itenas Bandung tahun 2017 dan 2017, juara 2 Kejuaraan Karate Yonif 330 Cicalengka (mengikuti 3 katagori, yakni kata individu, tim, dan kumite) tahun 2020, dan juara 3 Kejuaraan Karate yang diselenggarakan STKIP Bandung.

"Aku sangat senang, karena apa yang dicita-citakan selama ini bisa tercapai. Latihan yang keras dan bersungguh-sungguh itu kuncinya. Capek dalam latihan tidak masalah, karena demi mencapai keinginan. Sebab segala sesuatu yang dilaksanakan dengan ikhlas, termasuk latihan karate setiap hari, pasti akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” tutur Salsa kepada Majalah “Sekolah JUARA” belum lama ini.

Salsa juga bercerita tentang perasaannya ketika menghadapi karateka yang menjadi lawannya saat mengikuti kejuaraan. Rasa nervous dan deg-degan sebelum bertanding itu sangat manusiawi, apalagi melihat postur tubuh lawan yang jauh lebih besar dan tinggi.

"Aku ini kan kecil sedangkan lawan besar, tapi bagaimana caranya aku tidak menjadi kecil ketika bertanding. Pokoknya aku percaya diri saja, dan merasa yakin bisa mengalahkannya. Itu cara aku menghilangkan rasa nervous dan deg-degan," tandas anak kedua dari 2 bersaudara pasangan Suyadi dan Menik Hendaryasih.

Selama mengikui turnamen, menurut Salsa, kita berusaha untuk menjadi yang terbaik dan bisa memboyong medali untuk dipersembahkan ke sekolah. Tetapi kalau kalah jangan putus asa, tetapi harus dijadikan motivasi untuk lebih meningkatkan lagi latihan.

“Ya, bagi aku sih menjadi juara bersyukur, kalah juga jangan pernah putus asa. Kekalahan harus dijadikan penyemangat untuk lebih keras lagi berlatih,” tutur Salsa yang bercita-cita menjadi psikolog.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar