Semangat R.A. Kartini di Masa Pandemi Covid-19

Semangat R.A. Kartini di Masa Pandemi Covid-19 Humas USB YPKP Bandung

Kini tidak terdengar lagi adanya diskriminasi signifikan antara laki-laki dan perempuan, dan peran wanita di masa pandemi Covid-19 banyak yang bisa dilakukan, di antaranya mereka yang berprofesi di bidang kesehatan, pendidikan, dan bidang lainnya.

UNIVERSITAS Sangga Buana (USB) YPKP Bandung bekerjasama dengan FISIP Universitas Muhammadiyah Makassar, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Adabiah Padang, serta Dharma Wanita Persatuan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menggelar Webinar Nasional dalam rangka memperingati Hari Kartini.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 10 April 2021 dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming Youtube Universitas Sangga Buana YPKP Bandung.

Webinar nasional dalam rangka memperingati Hari Kartini ini diawali dengan laporan dari Ketua Panitia Pelaksana Webinar sekaligus Wakil Dekan FISIP USB YPKP, Witri Cahyati, S.Sos., M.Si, dan dibuka oleh Wakil Rektor II USB YPKP, Memi Sulaksmi, SE., M.Si., serta hadir pula secara virtual Ibu Atalia Praratya Kamil, M.I.Kom., selaku Penasehat Dharma Wanita Persatuan Provinsi Jawa Barat.

Dalam sambutannya Wakil Rektor II USB YPKP, Memi Sulaksmi, SE., M.Si., mengungkapkan, pemikiran, gagasan dan semangat R.A. Kartini tampaknya masih relevan dengan kondisi saat ini. Apalagi di tengah pandemi COVID-19, dibutuhkan semangat untuk tetap bertahan. Seperti kutipan R.A. Kartini yang menyebutkan, "terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu".

Perempuan bernama lengkap Raden Ajeng (RA) Kartini ini lahir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879. Anak dari Bupati Jepara, R.M. Ario Adipati Sosroningrat dan Ngasirah sempat menjalani pingitan yang dimulai pada 1892.

“Namun, hal itu tak membuat pemikiran R.A. Kartini terkungkung. Mengutip buku “Gelap-Terang Hidup Kartini”, seri buku saku perempuan-perempuan perkasa, Kartini menghabiskan waktu dalam masa pingitannya dengan membaca buku modern. Buku tersebut merupakan kiriman R.M. Panji Sosrokartono, kakak kandung Kartini. Kakaknya melanjutkan kuliah di HBS Semarang hingga ke Universitas Leiden, Belanda,” katanya.

Selain itu, jelas Memi, Kartini juga memanfaatkan kotak bacaan langganan ayahnya yang ada buku, koran, majalah dari dalam dan luar negeri. Kartini pun dikenal rajin menulis dan berkemampuan berbahasa Belanda. Bahkan, ia juga pernah mencari seorang sahabat pena dan menerbitkan iklan kecil pada 15 Maret 1899. Ia pun menjalani korespondensi dengan Estelle Zeehandelaar, aktivis feminis dan Rosa Abendanon yang juga menjadi pendukung bagi R.A. Kartini.

Lewat korespondensi itu, R.A. Kartini menuangkan gagasan, pemikirannya kepada sahabat penanya. Kartini menilai pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk memajukan kaum perempuan. Warisan pemikiran dan nilai-nilai yang berasal dari beliau bagi generasi muda zaman sekarang masih dapat kita amalkan dalam rangka Hari Kartini di tengah pandemi Covid-19 ini.

“Kini tidak terdengar lagi adanya diskriminasi signifikan antara laki-laki dan perempuan, dan peran wanita di masa pandemi Covid-19 banyak yang bisa dilakukan, di antaranya mereka yang berprofesi di bidang kesehatan, pendidikan, dan bidang lainnya,” kata Memi.

Tidak harus dalam ranah profesi eksternal saja, menurut Memi, perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga pun dapat tetap berjuang saat masa pandemi ini dengan cara menjaga kesehatan keluarga. “Selain itu, perempuan juga dapat berperanserta dalam upaya menghentikan penyebaran hoax tentang Covid-19. Karena sebagaimana kita ketahui, perempuan adalah guru pertama dalam keluarga dan merupakan sosok yang penting dalam kehidupan bersosial,” ujarnya.

Memperingati hari Kartini di tengah suasana pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan, tandas Memi, meski banyak peran yang bisa dilakukan di masa pandemi Covid-19, tetap saja perempuan dituntut bisa membagi perannya untuk keluarga, pekerjaan dan masyarakat. “Sudah sepatutnya sebagai wanita kita harus meneladani sikap-sikap yang dimiliki oleh Ibu Kartini. Banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari Ibu Kartini dan bisa kita terapkan di dalam hidup ini. Diantaranya adalah ibu kartini merupakan sosok yang membumi,” ucapnya.

Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, ulas Memi, R.A. Kartini tidak senang untuk disembah dan diagungkan seperti bangsawan lainnya. Dia sangat dekat dengan rakyat-rakyat kecil bahkan dia merasa sangat sedih melihat rakyatnya ditindas oleh para bangsawan lainnya.

Dengan meneladani sosok R.A Kartini, harap Memi, kita bisa berjuang untuk melanjutkan perjuangan dan cita – cita Ibu Kartini untuk menyelamatkan kaum perempuan. Hal ini dikarenakan saat ini masih banyak perempuan yang membutuhkan bantuan dan membutuhkan ibu-ibu Kartini baru yang bermunculan untuk memperjuangkan hak-hak mereka. “Oleh karena itu, marilah kita meneladani sikap dan perilaku Ibu Kartini,” pungkas Memi.**

Penulis: Febi Kurniawan/Humas USB YPKP Bandung

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar