Prinsip Dasar Pendidikan, Agus: Merata dan Menjangkau Siswa

Prinsip Dasar Pendidikan, Agus: Merata dan Menjangkau Siswa ist

SUMEDANG, GJ.com - Munculnya pandemi Covid-19 yang hingga sekarang menuntut kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka dihentikan sementara, dan pembelajaran secara daring menjadi pilihan. Hal tersebut tentunya  membuat keprihatinan Agus Wahidin sebagai Kadisdik Kabupaten Sumedang.

Pasalnya,  sejak diumumkan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada 2 Maret 2020 ada kasus Corona di Indonesia. Kemudian 17 Maret seluruh Jawa Barat masuk kategori PSBB. Sejak saat itu semua petinggi, stakeholder bicara daring, daring, dan daring. “Semua media,  semua orang ngomong  daring. Saya prihatin, ini bagaimana dunia pendidikan? Padahal prinsip dasar pendidikan dan pengajaran itu belum berubah sampai sekarang adalah adil, merata, dan menjangkau semua siswa,” katanya.

Apakah pendidikan kalau daring saja, tanya Agus, bisa adil, merata dan menjangkau semua siswa? “Tidak,  karena berbagai keterbatasan. Berangkat dari keprihatinan itu,  saya jadi  galau.  Tahun ajaran baru guru harus saya bekali apa sebagai seorang kadis. Saya nunggu dari pusat dan provinsi petunjuk terkait KBM, tetapi sampai sekarang tidak ada,” akunya.

Akibat ketidakjelasan ini, menurut Agus, guru  bagaikan orang palid, namanya orang palid nya sakarawelna atuh, naon we asal salamet. Jadi dalam KBM asal nugaskeun we da teu aya  pedoman. Akhirnya setelah didiskusikan dengan struktural, pengawas, para akademisi,  maka lahirlah strategi komplementer 7 metoda pembelajaran.

Strategi Komplementer 7 Metoda Pembelajaran:

1. Daring (Virtual)

2. Tematik Pendekatan Proyek

3. Modul atau LKS

4. Guru Kunjung

5. Televisi dan radio

6. Medsos

7. Penugasan Berkala dan Terukur

Strategi Komplementer 7 Metode Pembelajaran, jelas Agus,  adalah daring dan luring yang saling mengisi, serta  guru dan kepala sekolah diberi kesempatan. Ada sekolah yang bisa melaksanakan virtual melalui aplikasi tertentu berkali-kali, tetapi sekolah yang ada di Surian nun jauh di sana, belum satu kali pun melaksanakan virtual karena berbagai kendala, itu tidak jadi masalah, karena  bersifat Komplementer 7 Metode Pembelajaran ini saling mengisi.

“Kalau nomor 1 tidak bisa dilaksanakan, maka presentase nomor 2 dinaikan supaya mengimbangi nomor 1 yang tidak bisa dilaksanakan.  Nomor 6 (medsos) di Jatigede itu tidak bisa dilaksanakan, karena jaringanya jelek, anak juga belum pada punya handphone (HP) belum android misalkan, tidak apa-apa, berarti nomor 4, yakni guru kunjungnya tingkatkan,” ucapnya.

Menurut Agus, pedoman ini dibuat dan dibagikan ke sekolah berupa file pdf-nya, fisik print outnya, videonya. Sebab bisi aya guru nu kedul hoream maca, tinggal diliat videonya. Saya bisa disebut dzalim kalau tidak membekali guru untuk melakukan, dan  kalau pembelajaran ini tidak menjangkau semua siswa. Sekarang ini  semua orang hanya bicara daring, dan latah. Padahal tidak tahu kondisi  di lapangan seperti apa?

nah 7 metode ini persis berada dimasa transisi, Ibu nung ini lulus IKIP bandung tahun 88, pasti skripsinya mesin tik ya ? pasti, saya lulus IKIP Bandung 93, sebagian sudah komputer, sebagian masih mesin tik, Antara virtual dengan keadaan masyarakat ini masih dipersimpangan, kata Agus, maka dirinya harus bijak. Virtual dan daring itu niscaya, makanya dibuat sebuah puisi. 

“Daring virtual kini niscaya

tematik masih menarik

modul butuh berjudul judul

guru berkunjung wujud berjuang

televisi radio menjangkau pelosok

medsos nyata sahabat anak

penugasan harus terukur

bukan sekedar kewajiban umur”.**

Editor: Rusyandi

Bagikan melalui:

Komentar